Info Menarik- Lapisan es di Bagian Timur Kutub Selatan, yang
pernah dipandang sebagian besar tak terpengaruh oleh pemanasan global,
telah kehilangan miliaran ton esnya sejak 2006 dan dapat mendorong
kenaikan permukaan air laut pada masa depan, demikian hasil satu studi
baru.
Studi tersebut, yang diterbitkan Nature Geoscience, Minggu,
memperlihatkan lapisan es yang lebih kecil tapi kurang stabil di
Antartika Barat juga kehilangan sangat banyak massanya.
Para ilmuwan khawatir bahwa naiknya temperatur global dapat menyulut
perpecahan cepat Antartika Barat, yang menyimpan air beku untuk
mendorong permukaan samudra global setinggi lima meter.
Pada 2007, Panel Antar-Pemerintah PBB bagi perubahan Iklim (IPCC)
meramalkan permukaan air laut akan naik 18 sampai 59 centimeter paling
lambat pada 2100, tapi perkiraan itu tidak memasukkan dampak lapisan es
yang mulai retak di Greenland dan Antartika.
Hari ini, banyak ilmuwan yang sama mengatakan sekalipun buangan CO2,
yang memerangkap panas, dibatasi, permukaan air samudra lebih mungkin
untuk naik sekitar hampir satu meter, cukup untuk membuat beberapa
negara pulau kecil tak dapat dihuni dan merusak delta subur yang menjadi
habitat ratusan jutaan makhluk.
Lebih dari 190 negara berkumpul di Copenhagen, Desember, guna merancang
kesepakatan perubahan iklim guna mengekang gas rumah kaca dan membantu
negara miskin menanggulangi konsekuensinya.
Pengajar University of Texas Jianli Chen dan rekannya selama hampir
tujuh tahun menganalisi interaksi lapisan es samudra di Antartika.
Data itu, yang mencakup masa hingga Januari 2009, dikumpulkan oleh dua
satelit GRACE, yang mendeteksi arus massa di samudra dan wilayah kutub
dengan mengukur perubahan di medan magnet Bumi.
Sejalan dengan temuan terdahulu yang dilandasi atas beragam metode,
mereka mendapati bahwa Antartika Barat, rata-rata, menimbun sebanyak 132
miliar ton es ke dalam laut setiap tahun, memberi atau mengambil 26
miliar ton.
Mereka juga mendapati untuk pertama kali bahwa Antartika Timur, di
wilayah Bagian Timur Belahan Bumi di benua tersebut, juga kehilangan
massa, kebanyak di wilayah pantai, dengan luas wilayah sekitar 57 miliar
ton per tahun.
Margin atau kesalahan tersebut, mereka memperingatkan, hampir sama besar
dengan perkiraan, yang berarti hilangnya es dapat sedikit lebih kecil
dari beberapa miliar ton atau lebih dari 100 miliar ton.
Setakat ini, para ilmuwan telah memperkirakan bahwa Antartika Timur
"seimbang", yang berarti itu menimbun sama banyaknya massa dan
melepaskannya juga, barangkali malah lebih banyak.
"Dengan demikian, bertambah-cepatnya menghilangnya es dalam beberapa
tahun belakangan di seluruh benua tersebut dapat diketahui," demikian
kesimpulan para penulis tersebut sebagaimana dilaporkan kantor berita
Prancis, AFP. "Antartika mungkin segera memberi sumbangan jauh lebih
besar pada kenaikan permukaan air laut global."
Satu studi lain yang disiarkan pekan lalu di jurnal Nature melaporkan
gambaran yang sudah berubah bagi temperatur Antartika selama masa
hangat, "antar-gletser" seperti yang telah terjadi rata-rata setiap
100.000 tahun.
Selama masa itu, yang mencapai puncaknya 128.000 tahun lalu, menyebut
Priode Eemia, temperatur di wilayah itu barangkali enam derajat Celsius
lebih tinggi hari ini, yaitu sebanyak 3 derajat Celsius di atas
perkiraan sebelumnya, kata studi tersebut.
Temuan itu menunjukkan wilayah tersebut mungkin lebih sensitif
dibandingkan dengan yang diperkirakan para ilmuwan mengenai konsentrasi
gas rumah kaca dalam suasana yang rata-rata sama dengan tingkat saat
ini.
Selama Periode Eemia, permukaan air laut lebih tinggi lima-sampai-tujuh meter dibandingkan dengan hari ini.(*)






0 komentar
Posting Komentar